Sejarah dan Perkembangan Desa Windusari
Menelusuri perjalanan Desa Windusari dari masa ke masa. Dari desa tradisional hingga menjadi desa modern yang terus berkembang.
Sejarah dan Perkembangan Desa Windusari
Asal Usul Nama Windusari
Nama "Windusari" berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: "Windu" yang berarti delapan tahun atau periode waktu, dan "Sari" yang berarti inti atau yang terbaik. Menurut cerita turun-temurun, desa ini didirikan oleh para sesepuh dengan harapan menjadi tempat yang berkembang dan memberikan hasil terbaik setiap periode waktu.
Masa Pra-Kemerdekaan
Abad ke-19
Wilayah Windusari pada masa kolonial Belanda merupakan bagian dari kawasan perkebunan dan pertanian. Penduduk setempat banyak bekerja sebagai buruh tani dengan sistem tanam paksa.
Masa Perjuangan
Selama masa perjuangan kemerdekaan, Desa Windusari menjadi salah satu basis perlawanan. Banyak pemuda desa yang bergabung dengan laskar perjuangan.
Era Kemerdekaan (1945-1970)
Pembentukan Desa
Secara resmi, Desa Windusari dibentuk pada tahun 1952 dengan kepala desa pertama adalah Mbah Kartoredjo. Pada masa ini, desa masih sangat tradisional dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani.
Infrastruktur Awal
Era Pembangunan (1970-2000)
Revolusi Hijau
Tahun 1970-an membawa perubahan besar dengan program revolusi hijau. Petani Windusari mulai mengenal:
Modernisasi
**1975:** Listrik masuk desa
**1980:** Jalan desa diaspal
**1985:** SD Windusari dibangun
**1990:** Balai desa direnovasi
**1995:** Air bersih mengalir
Era Reformasi (2000-2015)
Otonomi Desa
Dengan otonomi daerah, desa mendapat kewenangan lebih besar dalam pengelolaan pembangunan. Dana desa mulai dialokasikan untuk:
Perkembangan Ekonomi
Era Digital (2015-Sekarang)
Transformasi Digital
Windusari tidak ketinggalan dalam era digital:
Program Unggulan
Kepala Desa dari Masa ke Masa
1. Mbah Kartoredjo (1952-1967)
Kepala desa pertama yang meletakkan fondasi desa. Fokus pada pertanian dan kerukunan warga.
2. Pak Suparman (1967-1985)
Era modernisasi awal. Menghadirkan listrik dan jalan aspal ke desa.
3. Pak Sutarjo (1985-2005)
Masa pembangunan pesat. Pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas.
4. Ibu Siti Aminah (2005-2015)
Kepala desa perempuan pertama. Fokus pada pemberdayaan perempuan dan UMKM.
5. Pak Bambang Wijaya (2015-sekarang)
Era digital dan inovasi. Membawa Windusari menjadi desa modern.
Demografi dan Populasi
Perkembangan Jumlah Penduduk:
Komposisi:
Prestasi dan Penghargaan
Tingkat Kabupaten:
Tingkat Provinsi:
Tradisi dan Budaya
Upacara Adat:
Kesenian:
Potensi dan Tantangan
Potensi:
Tantangan:
Visi Masa Depan
Windusari 2030:
Kesimpulan
Perjalanan Desa Windusari dari desa tradisional menjadi desa modern menunjukkan bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan semangat gotong royong, kemajuan pasti bisa diraih. Generasi muda Windusari diharapkan dapat melanjutkan estafet pembangunan desa menuju masa depan yang lebih cerah.
*Artikel ini disusun berdasarkan arsip desa, wawancara dengan sesepuh, dan dokumentasi sejarah lokal.*
Tentang Penulis
Budi Santoso
Kontributor aktif dalam pengembangan konten edukatif untuk masyarakat Desa Girimulyo.